![]() |
| Ereksi Penis |
Pengetian Ereksi
Ereksi adalah kondisi dimana penis membesar memanjang dan menjadi keras/ kaku dikarenakan
aliran darah yang mengalir ke dalam penis dan mengisi ruang- ruang yang kosong di dalam penis. Karena lebih banyak darah yang masuk daripada yang keluar maka penis akan memanjang, membesar dan menjadi keras.
Ereksi bisa dijadikan indikator bagi pria normal apabila terjadi rangsangan seksual. Semua pria dari segala usia bisa mengalami ereksi, dari sejak dia masih bayi (didalam kandungan) sampai tua. Pada bayi, ereksi terjadi karena respon terhadap sentuhan fisik. Sementara ereksi akibat adanya respon seksual biasanya dimulai saat pria beranjak remaja.
Anatomi Penis
Sebelum kita lanjutkan ke Bagaimana Proses Terjadinya Ereksi Penis mari kita pahami anatomi dasar penis. Penis terdiri dari 3 bagian utama, yaitu:
- Corpora cavernosa/ Corpora cavernosum, adalah dua jaringan silinder yang membentanng disepanjang sisi penis. Jaringan tersebut seperti spons yang mampu mengisap darah.
- Tunica, adalah selubung luar yang keras yang mengelilingi corpora.
- Corpus spongeosum, silinder ketiga yang berada diantara dua corpora. Di spongeosum terdapat uretra yaitu saluran/ selang tempat mengalirnya urine dan air mani keluar dari tubuh.
![]() |
| Anatomi Penis |
Anatomi penis berbentuk sedemikian rupa untuk menjalankan fungsi reproduksinya. Seluruh bagian-bagian dalam penis bekerja bersama-sama dengan sistem tubuh yang lain dari sejak syaraf memerintahkan penis ereksi sampai ejakulasi terjadi dan penis kembali lembek.
Proses Terjadinya Ereksi Penis
|
Proses ereksi dimulai dari otak. Stimulasi fisik dan / atau mental akan menyebabkan saraf mengirim pesan kimia ke sistem syaraf di penis, isi pesannya meminta pembuluh darah penis menjadi rileks sehingga darah
dapat mengalir bebas ke penis. Darah yang masuk membuat penis semakin membesar, semakin banyak darah yang mengalir maka semakin besar dan keras. Pembuluh darah balik akan tertekan menyebabkan darah terperangkap di dalam penis dan tidak bisa keluar. Hal ini menyebabkan proses ereksi tetap bisa bertahan lama. Mekanisme dari sejak proses stimulasi sampai tereksi terjadi disebut tumescensi.
Mekanisme terjadinya ereksi penis pada pria dimulai dari respon terhadap rangsangan seksual sampai puncak ereksi, kemudian orgasme dan penis menjadi lembek kembali berikut prosesnya
- Ada stimulasi seks berupa fisik seperi sentuhan, suara, rabaan atau stimulasi mental berupa bayangan erotis, fantasi, dan lain-lain yang menyebabkan gairah seksualmuncul.
- Bagian otak yang disebut nukleus para-ventrikel akan bereaksi terhadap rangsangan tersebut dengan mengirim impuls atau sinyal seksual tersebut.
- Impuls seksual kemudian menuju sistem syaraf pada penis melalui saraf otonom khusus di sumsum tulang belakang, saraf panggul dan saraf luas yang berjalan di sepanjang kelenjar prostat untuk mencapai corpora cavernosa dan pembuluh arteri yang nantinya akan terisi darah.
- Sebagai tanggapan terhadap sinyal-sinyal tersebut, serat otot di corpora cavernosa menjadi rileks, sehingga darah dapatdengan mudah mengisi ruang di dalamnya.
- Serat otot di arteri yang memasok penis juga menjadi rileks, dan terjadi peningkatan volume aliran darah menuju penis sebanyak delapan kali lipat. Peningkatan aliran darah ini akan memperluas ruang sinusoidal dalam corpora, kemudian merenggangkan selubung sekitarnya (tunika).
- Tunika yang merenggang akan menghambat pembuluh darah vena membawa darah keluar dari corpora cavernosa. Darah terperangkap di dalam penis, tekanan menjadi sangat tinggi dan penis akhirnya ereksi dengan keras.
- Saat terjadi orgasme, sinyal dari otak berubah secara dramatis. terjadi peningkatan mendadak produksi noradrenalin di alat kelamin.Hormon tersebut memicu orgasme dan kontraksi serat otot di corpora cavernosa. Sebagai akibatnya aliran darah menuju penis berkurang.
- Tekanan pada corpora menurun, yang juga melemaskan tunika sehingga memungkinkan darah mengalir keluar dari penis. Akibatnya penis menjadi lembek (detumescensi).
Itulah kedelapan proses terjadinya ereksi penis pada pria. Kegagalan di salah satu proses diatas yang di akibatkan gangguan organ dan syaraf akan mengakibatkan ketidak mampuan mempertahankan ereksi atau bahkan sampai tidak bisa mendapatkan ereksi (impotensi).
Referensi:
Dr Dan Rutherford, GP, The penis and how it works, www.netdoctor.co.uk




No comments :
Post a Comment